Planet
TSQ Stories
Al-Azhar Press
isbn: 979-3118-80-6
Buku ini saya sebut “TSQ-stories”, karena berisi kisah-kisah tentang kecerdasan ilmiah dan kreativitas teknologi yang berbasis spiritual (technoscience-spiritual-quotient). Kisah-kisah ini digali dari sejarah keemasan peradaban Islam, era di mana diyakini ada keseimbangan yang luar biasa antara budaya rasional dan transendental, antara dunia “aqli” dan “naqli”, dan antara kemajuan dunia dan keselamatan akherat.
Kisah-kisah ini “dipulung” dari banyak sekali sumber. Saya amat berhutang budi kepada Wikipedia, Sigrid Hunke (“Allahs Sonne ueber dem Abendland”), Ahmad Y Al-Hassan & Donald R. Hill (“Islamic Technology: An Illustrated History”), suami istri Ismail Roji & Lois Lamya al-Faruqi (“The Cultural Atlas of Islam”), Francis Robinson (“Atlas of the Islamic World since 1500”), Geoffrey Barraclough (“The Times Atlas of World History”), dan masih banyak lagi sumber-sumber yang berserakan. ...
How to Map Your Community on GE
Di situs http://mediaengage.org/execute/mapping/index.cfm, terdapat tulisan mengenai membuat peta di Google Earth oleh Masyarakat. Karena saya yakin ini berguna maka saya copi tulisan itu.Before you begin:
There are two steps that you need to take before you can map your community partners and connections with Google Earth.
First, download and install the Google Earth application on your computer. Second, find or create an Excel spreadsheet of your partners and their street addresses.
You will find links to download Google Earth and a spreadsheet template on our delicious site: http://delicious.com/ncoengage/map.
In this tutorial we’ll look at:
• Identifying and adding partner connections to your spreadsheet
• Mapping this information on Google Earth. We’ll add this information as layers on Google Earth. Layers consist of a group of partners that share a common characteristic or connection. By separating partner characteristics into layers, you control the amount of information and number of connections that are viewed at one time on your Google Earth map.
You can watch a companion video of this written tutorial at http://ncoengage.org/execute/mapping/
Step 1 - Determine the partner layer/characteristic to add to Google Earth.
The first step to creating your map is to add a new a new characteristic layer in Excel. For this tutorial, I’m using a spreadsheet that I’ve titled the Master Excel Sheet. It has community partners addresses already identified. You can find it in the zipped file of resources at http://ncoengage.org/execute/mapping/index.cfm.
I’m going to focus on mapping partners whose interests are in “The Arts”. Open the Master Excel Sheet that includes all of the partner data and scroll to the right until you reach an empty column. In the column heading type the label for the new layer/characteristic. In this case example, enter “The Arts”. Next determine which of the existing organizations have an arts focus and label them as such.
*Remember to Save your work.
Step 2 - Prepare the partner data for geocoding.
Select all of the partner data on the Excel sheet and choose “Data” from the menu. Then select “Sort” to sort your data by the new column heading “The Arts.” Click “OK”.
Step 3 – Open the geocoding tool.
Using your favorite Web browser, go to http://www.batchgeocode.com/
Go directly to Step #2 on this site and delete all of the data in the form box. The image below shows what the page looks like after you’ve deleted the data.
Step 4 – Add latitude and longitude coordinates to the partner data.
Return to the Excel sheet of partner organization data and select all of the organizations that you have labeled “The Arts”. Make sure to select all of the data related to “The Arts” partners including the column headers. Once it is selected, copy it to your clipboard.
Go back to the geocoding Web site and paste the data into the now empty form field in Step #2
Now move to Step #3 on the geocoder Web site and press the “Validate Source” button.
This will populate the form fields in Step #4 with the column headings from the partner Excel sheet.
Check that your data in Step #4 in the geocoder matches what the coding tool is looking for. You’ll do this by looking at the field names and the drop-down menu names.
The names of the fields do not have to match, but the data contained within them does. In the example below, the field matches the data although the names themselves don’t match exactly. This is fine.
Once you’re satisfied with the matches you’ve created in Step #4, click on “Run Geocoder” in Step #5. It will take a moment to process your data. The more partner organizations you have, the longer it will take.
Once the process is complete, scroll down to beneath the results map that is created and click on “Download to Google Earth (KML) File.” Download the file to the desktop of your computer.
Okay, now find the .KLM file on your computer desktop and rename it to match the layer you want displayed on Google Earth. In this example, name it “The Arts.klm”
Step 5 – Add the new layer to Google Earth
Open the Google Earth application on your computer. From the “File” menu, select “Open.” Find the “The Arts.klm” file on your desktop and click “Open”. You will see “The Arts.kml” appear in the “Places” window on Google Earth.
To change the icon for “The Arts” partner organizations displayed on Google Earth, right-click on “The Arts” layer and selecting “Properties”. A menu box will appear. Click on the icon to the right of the layer name to choose a new icon for “The Arts”.
You’re done!
You’ve added your first layer of partner information to our Google Earth map. To look at overlapping characteristics on your map, go back to Step 1 of this tutorial and create another layer. You can add and remove layers to display where your partners are in the community and the commonalities that exist between them.
Tulisan asli bisa anda lihat di/the original text http://mediaengage.org/execute/mapping/index.cfm ada gambar agar lebih mudah.
Klik Download written instructions on how to map your community using Google Earth. PDF or Word
Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.
GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com
WASPADA banjir diperpanjang hingga Mei 2010

Bencana tidak pernah sendirian

WASPADA Banjir dan Longsor Jawa Barat

Memadamkan untuk menghidupkan

Logo Earth Hour
Gerakan pemadaman lampu telah dilaksanakan di seluruh permukaan bumi. Dari belahan Utara hingga Selatan, dan dari Dunia Timur hingga Barat. Gerakan ini, seperti kita ketahui, adalah kampanye yang dimotori oleh WWF dalam mengemas inisiatif tentang perubahan iklim global. Tentang gerakan ini dapat kita baca lebih detil di situs web Earth Hour.
Saya sendiri tidak terlalu melihat hubungan langsung (dalam hitungan matematis) antara mematikan lampu dan perubahan iklim global. Saya hanya melihat gerakan ini sebagai momen mengingatkan untuk menghemat energi. Berhubung “hanya” sebagai momen pengingat, dan tidak mengikat, maka setelah pemadaman lampu selama satu jam apa yang sebaiknya kita lakukan..?
Jaman ini adalah jaman pemakaian energi (listrik) yang semakin luar biasa. Listrik sudah mendekati Oksigen pentingnya. Seakan tanpa listrik kita tidak dapat bernapas. Hampir 24 jam sehari kita bersanding dengan listrik. Tetapi jarang terpikirkan oleh kita (ehm, maaf, “oleh saya” lebih tepatnya) dari mana listrik berasal. Bagaimana proses pembangkitan listrik yang terjadi (masalah di hulu). Dan bagaimana penggunaan listrik pada akhirnya (masalah di hilir).
Tanpa kampanye oleh WWF dengan Earth Hour-nya pun, sejak kecil saya selalu diajarkan oleh orang tua dan guru tentang berhemat energi, antara lain dengan memerhatikan penggunaan listrik di rumah. Sejak saat listrik di rumah dibangkitkan oleh “genset” karena memang belum terjangkau oleh jaringan listrik PLN, hingga akhirnya menggunakan listrik PLN, suasananya sama saja, harus menghemat dalam pemakaian. Lampu yang tidak “sedang bertugas” maka harus dimatikan. Saat sinar matahari mulai menguasai permukaan bumi, segera lampu teras dan sekitar dimatikan, beberapa lampu di dalam rumah pun tidak luput dari pemadaman. TV pun seharian tidak dihidupkan, ehm, karena memang tidak ada siaran siang hari hehehe. AC pun tidak perlu dihidupkan sama sekali, karena memang belum terinstall di rumah… (crispy mode on).
Saat ini tampaknya agak berbeda, jika saya terapkan hal-hal tersebut di rumah, maka akan akan bersinggungan dengan banyak kepentingan. Antara lain kenikmatan hidup dalam menikmati hiburan di TV, plus banyak lagi peralatan rumah tangga yang tergantung dengan kehadiran listrik dalam penggunaannya, tidak hanya sekedar satu atau sepuluh lampu penerang rumah. Belum lagi “gaya hidup Saykoji” yang semakin merasuk: online online… online online… hehe
Jadi, apakah dengan mematikan lampu selama satu jam (dalam kegiatan Earth Hour ini) mampu mengubah dunia..? Tidak lah yaw… Warga dunia akan semakin rakus dengan energi (listrik), karena memang itulah yang disodorkan oleh siapapun penghasil produk penunjang kehidupan. Semua alat memerlukan listrik. Dan kita semakin tergantung pada penggunaan alat yang berlistrik.
Saya hanya merasakan, pemadaman lampu selama satu jam tadi malam hanya sebagai pengingat dan semangat (bagi yang telah ingat) akan pentingnya perhatian pada penggunaan (energi) listrik dengan baik dan benar. Artinya, akan kembali ke diri kita lagi, sejauh mana kita menerapkan dengan bijak dalam kehidupan pribadi dan lingkungan keluarga kita akan kesadaran penghematan dalam penggunaan listrik.
Pemadaman (sejenak) untuk menghidupkan (kembali) semangat berhemat.
: )
Filed under: Mi familia, Patee del rincón Tagged: Earth Hour, energi, hemat energi, hemat listrik, listrik

Peta Kuliner Nusantara

Peta Kuliner Nusantara
Membuka album foto hasil jepret sana-sini selama dalam perjalanan dibelakang, mengingatkan banyak hal. Perjalanan panjang ke berbagai tempat kembali teringat. Dan satu hal yang selalu dilakukan saat ngeluyur tersebut adalah menikmati sajian nusantara. Bahasa kerennya saat ini adalah “wisata kuliner”.
Lokasi “bahan bakar” yang sangat berharga ini, berharga dari sisi keperluan perut saat di lapangan, dan juga dari sisi berbagi pada rekan yang akan menuju lokasi yang sama, tentunya asik juga kalau diletakkan dalam satu lembar peta dijital. Berbekal beberapa foto yang telah ditemukan, dan juga berusaha keras mengingat banyak hal tentang lokasi-lokasi “kenikmatan” tadi maka diberanikan untuk meletakkan foto-foto tersebut di lokasi “sebenarnya”, dengan memanfaatkan Google Maps dan Album dijital Picasa.
Pada kenyataannya, tidak semua lokasi kuliner ini mengingatkan persis posisinya pada peta, karena yang lebih teringat adalah kelezatannya… hehe…
Dan juga, ternyata ada juga yang lokasinya sudah tidak ada lagi karena digusur oleh yang punya traktor berwenang…
Akhirnya modus “Phone-A-Friend” terpaksa dilakukan untuk beberapa kasus… Tentunya friend yang dikontak adalah yang berada di lokasi atau yang pernah mengantar atau pergi bersama menikmati kuliner tersebut.
Baru beberapa lokasi yang diingat dan berhasil dikumpulkan foto-fotonya, and counting…
Untuk waktu saat ini dan kedepan peta ini akan diisi gabungan pengalaman saya dan istri (dan saat bersama keluarga) dalam menikmati sajian nusantara.
Sila mampir ke Peta Kuliner Nusantara…
Salam kuliner… : )
Filed under: Mijn reizen, Photomoregana, Stayeatandcool, Tanah-Air, Vlugge schakels, WebGIS Tagged: Google Maps, Kuliner Nusantara, mapping, peta, Peta Kuliner, picasa

Berapa Nilai Kualitas Berkota Warga Yogyakarta?
Pemetaan Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Berlalu Lintas di Pusat Kota
Beroperasinya moda transportasi publik Bus Trans Jogja di Yogyakarta merupakan pertanda baik dalam pengelolaan lalu lintas perkotaan. Trans Jogja yang beroperasi secara resmi sejak tanggal 25 Februari 2008 itu dapat membuka pilihan baru dalam bermobilitas. Sebanyak 67 halte khusus dibuat di seantero Yogyakarta untuk melayani rute 54 bus yang beroperasi setiap hari antara pukul 06.00 - 22.00. Angka fantastis sebagai hasil studi Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika Daerah Istimewa Yogyakarta (Dishubkominfo DIY) menunjukkan bahwa Trans Jogja mampu menyedot 3,6 juta penumpang di tahun 2008 dan 5,1 penumpang di tahun 2009. Dishubkominfo menyatakan dalam hasil survei di awal tahun ini, dari sebanyak 2099 responden, 37 persen penumpang adalah pengguna sepeda motor, 4 persen pengguna mobil, dan 37 persen pengguna bus umum lainnya.
Karaoke

GPS Tracking: meningkatkan pelayanan
Indogeotech meluncurkan sebuah aplikasi gratis untuk melacak kendaraan kita. Aplikasi yang mudah dalam penggunaanya ini bisa anda lihat di situsnya www.kulacak.com.Bila kendaraan anda telah dilengkapi dengan GPS tracking maka anda tidak usah khawatir terhadap kendaraan anda. Kenapa? Karena bila ada penjahat yang mencuri kendaraan anda, anda dapat melacak dimana keberadaan kendaraan anda melalui aplikasi ini.
GPS Tracking di Dunia Bisnis dan Pelayanan Kemanusiaan
Sudah saatnya kendaraan yang digunakan dalam dunia bisnis dan pelayanan kemanusiaan dipasangkan GPS tracking. Kenapa?
Jawaban untuk dunia bisnis:
1. PENINGKATAN EFISIENSI PERUSAHAAN
Memastikan bahwa seluruh armada dan karyawan Anda bekerja secara optimal
Meminimalkan terjadinya penyimpangan rute dan pengiriman yang terlambat
Anda dapat mengetahui berapa lama waktu istirahat karyawan (supir) Anda
2. PENGHEMATAN BIAYA OPERASIONAL
Mengontrol dan mencegah terjadinya pencurian BBM (Bahan Bakar Minyak) pada kendaraan Anda.
Mengontrol pekerjaan karyawan Anda, sekaligus mencegah terjadinya pembayaran upah lembur yang tidak benar.
3. MENGHINDARI KECURIAN MOBIL
Mengontrol mobil dan armada Anda lewat SMS atau Komputer, termasuk mematikan mesin mobil via SMS, melacak pergerakan berikut posisi kendaraan Anda setiap hari, selama 24 jam penuh. Temukan fitur lengkap dari KULACAK
Mengurangi biaya Asuransi kendaraan Anda, selain Asuransi Mobil (Total Loss) hanya membayar 80% dari harga mobil baru Anda
Mengetahui Armada mana saja yang tidak efisien.
4. KEAMANAN KARYAWAN, ARMADA DAN PRODUK
Tombol SOS jika terjadi pembajakan / kecelakaan di tengah jalan.
Deteksi dan pemberitahuan ke Anda, jika Mobil Anda keluar dari daerah yang telah ditetapkan
Deteksi dan pemberitahuan ke Anda, jika Mobil berlari diatas kecepatan yang telah ditetapkan
Jawaban untuk pelayanan kemanusiaan:
Sama seperti dunia bisnis, hanya saja perlu ditekan kan bahwa keterlambatan dan ketidaktepatan membuat korban bencana semakin menderita dan mungkin jumlahnya malah akan bertambah.
Organisasi pelayanan kemanusiaan yang dapat menggunakan GPS tracking misalnya adalah PMI, Ambulans 118 dan MER-C.
1. PENINGKATAN EFISIENSI ORGANISASI
Memastikan bahwa seluruh armada dan karyawan/sukarelawan organisasi yang anda kelola dapat bekerja secara optimal. Meminimalkan terjadinya penyimpangan rute dan keterlambatan pengiriman bantuan (baik pelayanan maupun barang bantuan).
2. PENGHEMATAN BIAYA OPERASIONAL
Mengontrol penggunaan BBM pada kendaraan bantuan.
Mengontrol penggunaan kendaraan diluar kepentingan organisasi
3. MENGHINDARI KECURIAN MOBIL
Mengontrol mobil dan armada Anda lewat SMS atau Komputer, termasuk mematikan mesin mobil via SMS, melacak pergerakan berikut posisi kendaraan Anda setiap hari, selama 24 jam penuh.
Mengetahui Armada dan operator mana saja yang tidak efisien.
4. KEAMANAN DAN KESELAMATAN KARYAWAN, SUKARELAWAN, ARMADA DAN BARANG BANTUAN
Mengingat karyawan, Pengurus dan Sukarelawan organisasi kemanusiaan bekerja di lingkungan yang tidak bersahabat dan bahaya selalu mengancam maka GPS tracking mampu meningkatkan jaminan keselamatan bagi siapa saja yang terlibat dalam operasi bantuan.
Tombol SOS jika terjadi pembajakan/kecelakaan di tengah jalan.
Deteksi dan pemberitahuan ke Anda, jika Mobil Anda keluar dari daerah yang telah ditetapkan.
Deteksi dan pemberitahuan ke Anda, jika Mobil berlari diatas kecepatan yang telah ditetapkan.
Kesemua alasan diatas akan membantu meningkatkan penilaian (imej) masyarakat terhadap perusahaan atau organisasi kemanusiaan yang anda kelola.▲
Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.
GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com
▲
About
Planet Geo Indonesia is a GIS/geo- related blog aggregator, written by Indonesian bloggers and mostly in Indonesian Language... read on »
Contributors
Except otherwise noted BK and Geografiana.com has no affiliation whatsoever with the authors. All materials, links, copyrights, opinions expressed in each blog solely belongs to the original authors.
Got something to say?
Link to this site
Feel free to use this image to promote this planet on your website/weblog, you can simply copy-and-paste the code below:

All opinions belong to their respective owners, others, copyright © 2006-2007 Buana Katulistiwa.





