Hartanto Sandjaja
Ragam luas wilayah
Tahukah kita seberapa luas wilayah Indonesia ini..? Mmm… kalau terlalu luas, kita kecilkan, bagaimana dengan luas wilayah kabupaten atau kota tempat kita tinggal..? Seandainya saya diminta menjawab, saya sendiri tidak tahu berapa luas wilayah Kota Bogor dimana saya tinggal saat ini. Jika saya kemudian dapatkan angkanya, melalui versi resmi Pemerintah Kota sekalipun, saya masih belum percaya itu adalah angka sebenarnya. Mengapa demikian..?
Dari pengalaman saat membangun data spasial dibeberapa daerah, saya mengalami beragam masalah dengan angka luas wilayah ini. Di satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat misalnya, angka luas yang saya dapatkan melalui data dijital peta rupabumi Indonesia sekala 1:25.000, hasilnya sangat berbeda dengan angka luas yang diakui selama ini oleh pemerintah daerah setempat. Hal ini menimbulkan diskusi menarik dan panjang saat presentasi hasil akhir pemetaan tersebut karena adanya perbedaan angka yang menimbulkan pertanyaan beberapa hadirin.
Walaupun peta rupabumi Indonesia bukanlah peta acuan batas wilayah administrasi, tetapi saya saat itu masih berkeyakinan bahwa inilah data terakurat yang ada dibandingkan peta batas wilayah yang banyak terpampang di dinding kantor pemda setempat. Yang terpampang di dinding tersebut lebih layak disebut sebagai lukisan, karena memang tidak tampil layaknya sebuah peta standar. Angka yang “diyakini” oleh pemda selama ini bisa berasal dari berbagai sumber. Salah satu kemungkinan adalah dari perhitungan luas sebuah peta batas administrasi yang tercetak (atau tergambar?) diselembar kertas, dimana penghitungan mengunakan planimeter. Tidak ada yang salah dengan metodanya, tetapi yang harus diperhatikan kemudian adalah sumber peta dan tingkat kesalahan dalam perhitungan tadi.
Gambar batas administrasi yang terdapat pada lembar kertas tadi harus diperhatikan keterbatasannya, yang kemudian terkait dengan tingkat (akumulasi) kesalahan yang dapat terjadi. Hal-hal yang dapat diperhatikan diantaranya:
- Kualitas kertas, jika gambar yang ada adalah hasil photo copy maka kertas dapat berubah bentuk disebabkan oleh panas atau kelembaban udara, letak yang tidak tepat saat menggandakan, ataupun pengaruh optic mesin walaupun perbesaran (zoom) diset 100% alias tidak ada perubahan besar.
- Garis batas administrasi yang tertera/tercetak, dalam hal ini antara lain adalah ketebalannya. Saat menggunakan planimeter maka jarum alat yang mengikuti garis tersebut dapat mengikuti batas luar atau dalam garis, dan keduanya menimbulkan angka berbeda. Belum lagi ketelitian dalam mengikuti liku dari garis tersebut, terutama untuk daerah berbukit atau gunung. Hal ini juga dapat terjadi saat mendijitalkan data, dimana “perjalanan” petunjuk titik dari alat dijitasi sangat berpengaruh pada tingkat ketelitian.
Tingkat ketelitian dalam pembangunan data spasial dapat ditingkatkan dengan berbagai metoda pelaksanaan yang, pada umumnya, kita ketahui dan telah lakukan.
Kembali ke masalah perbedaan angka luasan. Ternyata, sekalipun data batas asministrasi telah dibangun dengan peralatan canggih, dimana digunakan data dijital dari sumber yang dapat dipercaya dan menggunakan perangkat lunak pengolah data yang bagus, tetap saja angkanya tidak dapat diterima oleh pemangku kepentingan, dalam hal ini pemda, karena adanya perbedaan dengan angka yang telah ada selama ini.
Alasan utama adalah perubahan angka luasan dapat mengubah banyak kebijakan yang telah dan sedang dilaksanakan. Kebijakan ini memang terkait dengan data luas, seperti luas daerah hutan, luas sawah atau daerah pertanian, luas perkebunan, dan masih banyak lagi yang lainnya. Dan semua ini terkait erat dengan anggaran yang telah ditetapkan atau tengah dimanfaatkan atau yang tengah direncanakan. Lagipula angka luas wilayah harus masuk dalam Perda (Peraturan Daerah) dan ini adalah proses yang rumit.
Pengalaman saya pada tiga daerah berbeda, yaitu kabupaten di Jawa Barat, kabupaten di Sulawesi Barat, dan kabupaten di Jawa Timur, selalu mendapatkan angka luasan yang berbeda dengan yang telah di-perda-kan. Dan akhirnya adalah angka yang saya dapatkan hanya merupakan “wacana” bagi pemda, dengan penjelasan angka tersebut adalah hasil dari kajian keilmuan geografi yang memanfaatkan Sistem Informasi Geografis yang canggih itu…
Mmm… terbersit selintas, bahwa luas wilayah dengan “batas yang sangat teliti” pun masih akan menghasilkan angka yang berbeda-beda. Mengapa..?
Dalam perhitungan luas dalam keruangan harus juga memerhatikan luas dari “bentuk permukaan wilayah” (morfologi) yang dihitung, apakah pendekatannya dalam dua-dimensi atau tiga-dimensi.

Ilustrasi batas wilayah dalam 3D dan 2D
Untuk daerah yang bergunung tentunya perhitungan luas harus memerhatikan bentuk tiga-dimensi. Contoh dari daerah seperti ini adalah kabupaten Bogor yang mempunyai Gunung Salak dan Gunung Pangrango, kabupaten Lombok Timur yang sebagian wilayahnya adalah Gunung Rinjani, dan kabupaten Banyuwangi yang sebagian wilayah utaranya adalah Gunung Ijen.
Sementara itu daerah yang relatif rata dapat dilakukan pendekatan dua-dimensi saja. Contoh daerah seperti ini adalah Kabupaten Tangerang, Kabupaten Lampung Timur, dan Kabupaten Kutai Timur.
Bener gak ya pendekatan ini…?
Dengan pendekatan perhitungan yang berbeda ini, janganlah heran jika luasan wilayah se-Indonesia dijumlahkan semua maka luasnya akan lebih dari luas daratan Indonesia yang saat ini diakui ada…
: )
Posted in Notas rápidas, Patee del rincón Tagged: 3d, 3D analyst, GIS, peta, SIG, Wilayah
Ngeblog gaya Mikro

ngeblog gaya mikro
Setelah bermain dengan Plurk dan Twitter, ada keinginan untuk ngeblog gaya mikro di WordPress. Syukur, ada dua theme (sampai saat ini) yang mendukung, dan lumayan asik, tampilan sederhana, dengan penyegaran halaman otomatis.
Ngeblog gaya mikro di WordPress ini gak dibatasi jumlah karakter dan terasa lebih personal. Yang ada waktu, sila berkunjung ke:
- PadangZaitun => http://padangzaitun.wordpress.com
dan jangan lupa tinggalkan jejak…
: )
Posted in Mi familia, Vlugge schakels Tagged: Microblogging, plurk, Twitter
Koran Jakarta: Lebih Akurat dengan Radar dan Satelit
Reportase oleh Koran Jakarta tentang aplikasi Radar Cuaca Harimau terkait dengan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), suatu penelitian bersama antara Program Harimau BPPT dengan Balai Besar Peramalan OPT Departemen Pertanian:
- Lebih Akurat dengan Radar dan Satelit, Edisi Jumat, 20 Nov 2009.
Kegiatan kajian ini sendiri dapat diikuti pada Situs Kegiatan.
Posted in AnotherWorld, Vlugge schakels Tagged: BBPOPT, BLB, BPPT, cuaca, Harimau, HDB, Kresek, OPT, padi, ptisda, radar, Radar Cuaca

Duet TOP

TOP di SDIT At-Taufiq
Undangan (atau pemberitahuan) datang tiba-tiba, dalam bentuk sebuah surat resmi, dari sekolah Alta. Biasanya, undangan untuk hadir di sekolah Alta, SDIT At-Taufiq Bogor, pada hari Sabtu adalah untuk temu antara guru (ustadz/ustadzah) wali kelas dan orang tua murid, untuk menjalin komunikasi agar orang tua mendapat masukan apa yang “terjadi” dengan anak sehari-hari, dan guru pun akan mendapat masukan dari orang tua murid bahwa si anak mempunyai kebiasaan demikian demikian demikian di rumah atau lingkungan rumah. Informasi dua pihak ini dirasa sangat penting untuk membimbing si anak agar sinkron. Pertemuan dilakukan beberapa kali dalam satu semester dan biasanya juga sekalian membahas mengenai prestasi si anak dalam keseharian, kegiatan ekstra kurikuler, hasil ujian formatif, ataupun hasil ujian tengah semester.
Undangan yang datang kali ini beda. Diberitahukan bahwa orang tua murid (bapak atau ibu, salah satu saja) diwajibkan mendampingi anaknya (khusus yang kelas enam) saat acara TOP, Try Out with Parent. Pada acara TOP ini ortu harus duduk semeja dengan putra/putrinya dan diberi soal/pertanyaan layaknya try out dan dikerjakan bersama. Yang akan diujikan adalah mata pelajaran IPA, Matematika dan Bahasa Indonesia. Wow…!!!
Yang kepikir pertama: what..? berduet untuk mengerjakan soal-soal..? Sudah berkepala empat (umurnya, maksudnya) mesti berduet dengan anak kelas enam SD untuk urusan pelajaran SD..? Sekolah Dasar..?
Mmm… ini tantangan asik. Malam sebelum acara segera berbagi tugas dengan Alta. Dia bagian belajar dengan menghafal dan berlatih soal, saya bagian nonton… eh salah… saya membantu menguliti kisi-kisi yang akan diujikan. Singkat saja… kemudian tidur.
Sabtu pagi, dengan berkendara Angkot 08 jurusan Citeureup – Pasar Anyar, dan disambung lagi dengan Angkot 32 jurusan Cibinong – Bubulak, datanglah kami ke sekolah Alta, yang terletak di Jalan CImanggu Permai, daerah Tanah Sareal Bogor.
Alta langsung lihat daftar ruang dan nomor meja, lalu kami langsung menuju ke ruang dan meja yang telah ditentukan, yaitu di ruang kelas IV B dan meja nomor dua dari depan di sisi bagian kiri ruang. Di ruang kelas sudah diatur ada 15 meja, dengan sepasang kursi pada tiap meja. Tidak lama ruang sudah penuh dengan pasangan ortu-anak, dan yang datang tidak seragam, alias ada yang didampingi oleh bapak, ada juga yang didampingi oleh ibunya, mungkin ada juga yang didampingi oleh orang lain/wali saya nggak tau.
Jam 8:00 ustadzah Dewi masuk, membawa lima belas soal dan lembar jawaban. Setelah membuka hari, lalu ustadzah membagikan soal dan lembar jawab, dan Alta segera mengisi keterangan lembar jawab dengan pensil (nama, mata pelajaran, dll). Bagian pertama dari ujian ini adalah Bahasa Indonesia. Soal berjumlah 30, dan tak lama mulailah kami khusyuk mengerjakannya.
Segera terasa muda lagi… saat jaman baheula mengerjakan hal serupa di meja dan kursi dan kelas dan… udah deh stop ngelamunnya dan terus mengerjakan soal… :D
Soal cerita, menentukan kalimat utama, ada juga puisi, dan penyusunan kalimat yang sesuai… banyak lagi…
Waktu mengerjakan hanya sejam, dan ustadzah selalu memberi tahu sisa waktu yang ada. Alhamdulillah… sebelum waktu selesai semua jawaban sudah terisi dan sudah pula dilakukan cek ulang. Yakin benar semua…? Entahlah… hehe…
Waktu selesai, kemudian saatnya istirahat, dan ada pembagian kotak yang berisi makanan ringan empat macam plus satu gelas air mineral. Alta menghabiskan 3, bapaknya kebagian satu, minum bareng…
Ujian berikutnya adalah Matematika, dan untuk yang satu ini kelas diawasi oleh ustadzah Amel. Sama seperti yang pertama, setelah selesai mengisi data pada lembar jawaban maka segera tancap gas untuk mengerjakan soal yang berjumlah 25. Pembagian dan perkalian dalam pecahan dan dalam soal cerita… fuih… tambah lagi dengan KPK (bukan Komisi yang sedang diramaikan, tetapi kependekan dari kelipatan persekutuan terkecil), menghitung luas dan keliling bidang tak beraturan…
Waktu belum habis, segera cek lagi semua soal dari awal, lalu lapor ke ustadzah Amel, bahwa Alta akan mengikuti kegiatan lain (yang juga diselenggarakan oleh sekolah pada jam 11:00) sehingga minta langsung soal untuk IPA untuk menghemat waktu. Setelah menyerahkan lembar jawaban, kami lalu diarahkan untuk ke ruang guru, dan kemudian mengerjakan soal-soal IPA disana.
Di ruang guru, kami segera mendapat soal IPA dan kerjasama segera berlangsung kembali dengan kecepatan tinggi. Selesai nomor akhir, kemudian diulang untuk beberapa nomor yang masih meragukan isinya, dan kemudian dicek ulang lagi dari awal. Jam 10:45 selesai, masih ada waktu 15 menit untuk Alta istirahat, sebelum melanjutkan kegiatan Qira’aty di Masjid At-Taufiq yang berlokasi di halaman depan Sekolah.
Saat Alta bersama rombongannya berkegiatan di Masjid, saatnya si ortu kumpul-kumpul ngobrol-in apa yang telah terjadi beberapa saat sebelumnya. Kegiatan TOP ini ternyata cukup mengagetkan sebagian ortu. Kenapa..? Karena kewajiban untuk ber-duet dengan anaknya dan kali ini adalah: mengerjakan soal bersama. Banyak yang tidak siap dengan segala macam soal mata pelajaran si anak. Banyak yang “mendisposisikan” dirinya ke orang lain saat waktunya si anak belajar di rumah. “Disposisi” ini bisa ke orang lain (saudara yang diminta mengasuh anak) atau pada kakaknya si anak. Alasannya..? Wuah ada seribu satu macam tentunya… Akibatnya adalah ketidaktahuan ortu akan mata pelajaran si anak. Jadi boro-boro untuk berduet mengerjakan soal, lha wong mata pelajaran nya aja gak pernah tau apa… haha…
Dari per-kongkow-an ortu ini terungkap banyak peristiwa lucu yang terjadi. Pak Budi (nama samaran, takut anaknya mengenali…) dengan penuh keyakinan membantu sang putri dalam pengerjaan soal. Saat mana ada soal yang membingungkan, maka Pak Budi segera mengeluarkan ajian serat jiwa masa lalu. Dengan trik khusus, tanpa si anak tahu, ia menghitung kancing. Betul, menghitung kancing yang ada di bajunya. Saat hitungan kancing selesai dan jatuh pada pilihan tertentu, maka ia dengan pasti memberi tahu putrinya bahwa jawabannya adalah anu (pilihan a sd d). Wooo jadi inget masa lalu… hehehe…
Lain lagi dengan pak Dadi (samaran juga nih). Ada beberapa soal yang menanyakan tentang istilah dalam Ilmu Pengetahuan Alam. Si anak lalu diminta untuk memikirkan jawabannya dahulu. Sementara itu ia segera mengeluarkan BlackBerry smartphone-nya dan… googling…!!! Tentunya tanpa si anak menyadari kelakuan canggih si Bapak… Tak lama ditemukanlah jawaban yang diinginkan, dan dengan segera sang Bapak memberi tahu putra tercintanya untuk mengisikan sesuai “pilihan jawaban” si Bapak… Weee… manstaffff…
Berbagai kelakuan ortu yang terceritakan dalam kongkow itu menjadikan semua tersenyum dan senang sekaligus bisa menilai ternyata ortu sangat perhatian pada anaknya, sampai-sampai segala cara dilakukan demi sang anak. Apakah contoh yang dilakukan oleh kedua rekan ortu diatas adalah kecurangan? Secara eksplisit sih nggak juga, karena tidak sebutkan dalam peraturan tentang larangan menghitung kancing ataupun googling di lembar soal. Tapi secara mental… bagaimana…? Entahlah, mungkin kami saling menilai sendiri-sendiri, tanpa perlu dilontarkan pada yang lain… ehm ehm…
Seminggu setelah acara, keluarlah hasilnya. Dari tiga mata pelajaran yang di-TOP-kan maka pasangan Alta dan bapaknya mendapat dua nilai teratas yaitu untuk Matematika dan IPA, walau bukan nilai sempurna.
Sementara itu, untuk nilai Bahasa Indonesia… mmm… begitulah… mesti banyak belajar…
: )
Posted in Mi familia Tagged: alta, Bahasa Indonesia, IPA, kids, matematika, SDIT, TOP, Try Out with Parent
Sudut pandang spasial

Windows XP "Azul" peaceful island wallpaper
Ketika kita dihadapkan pada suatu tampakan, apakah itu suatu lukisan, foto ataupun lanskap alami, maka sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia keilmuan terkait dengan spasial, apa yang dapat kita pikirkan..?
Dengan melihat gambar diatas, yang merupakan gambar “wallpaper” yang sering kita lihat pada Windows XP, beberapa rekan melukiskan dalam beragam sudut pandang. Semua pendapat ini dikeluarkan hanya dalam waktu kurang dari 10 menit… ho ho ho…
Hasilnya antara lain adalah:
Pendapat-1:
somewhere existed three units point, that reside in in a beautiful polygon in the middle of wide place, and have segment that arranged
Pendapat-2:
I have beautiful map. It maps has 3 component GIS is line, point n polygon. This map which has 2 polygon : big polygon and small polygon. The big polygon can be call as ocean and small polygon can be call island . between two polygon separate by line in attribute the line can call as boundary between island and ocean. In small polygon we can found 3 point and in attribute can we call as coconut tree..
Pendapat-3:
a polygon-shaped small island measuring approximately 25 meters square, is the island with white sand there are three points of a coconut tree, may not find the lake or fresh water, surrounded by a segment of the ocean. if this image we draw in raster or vector, it’s easy to be understand. from the image data can be concluded there was no fresh water to support human and animal life.
Pendapat-4:
in this picture, I see a small polygon shape in the very big polygon. there are three point in the small polygon and there are some line in the big polygon that has irregular shape. i see one line that has straight shape.
Pendapat-5:
In this picture, visually we have the ocean, a small island, 3 coconut trees.
In spatial view, we can say that first, the boundary is limited in what we can see in the picture such as the ocean and maybe the beach.
We can consider the ocean as a big polygon and the island as a small polygon inside the big polygon. In the small polygon we have 3 coconut trees which can be considered as 3 points. One another thing is that viewing the ocean using continued data, we can see that the depth of the ocean is different in the middle of the ocean and near the beach. However, we must be careful because there are so many clouds so the clouds shadow my change our view of the depth of the ocean. Finally, this place has its coordinate (longitude and latitude)
Pendapat-6:
. point: a very beautiful sea with blue water, such as without limit
. point: in the middle there is a small island overgrown with three palm trees.
. point: Each of the coconut trees to bear fruit as much as 10
. point: the beach as a place to walk
Pendapat-7:
from the image above, with spatial data i can describe that as region is represented as a polygon where the main polygon (big) is the sea area. in the middle of main polygon there are one small polygon is representation of land area and the last is the point (segment) which is a representation of the 3 palm trees in the small polygon and 1 point to show location of sailboat.
1 polygon (sea area)
1 polygon (land area)
3 point (palm trees)
1 point (sailboat)
Pendapat-8:
In the picture there is: the following points: * Point: border with the sea coast, attribute: the beach in, shallow, medium * Point: beach shade trees ==> attributes: palm trees, relaxing place, mangrove. * Point: fishing location ==> attributes: the potential for large and small fish, reef areas. * Point: a location for relax ==> attributes: the sun, beach volleyball, recreation * Point: sea borders ==> attribute: for surfing, swimming, fishing area. Pendapat-9: there is an island, with 3 trees, in the middle of the sea was beautiful.Input:
- Point (IDP) any four, any line IDL) six, and any polygon (IDS) about one tree, one about sea and one about the beach …
- Map the input data, observations of tree height n few yards from the beach where the island’s
- Taking photos of the island and other communities imaginable on the island. Pendapat-10: That island is located in one location which is has a coordinate in degree or even in x and y coordinate. It has trees (coconut trees), beach, shoreline and the area of that island itself. In the map trees and the cruise can be represent as point, shoreline can be represent as line, coastal area (beach) and the island can be represent as polygon. If we go to that island and has a navigation tools (GPS for example)and also the aerial photograph, we can make a good map about where is that island exactly taking place. Measure the coordinate of each trees, make it as Ground Control Point, and each GCP is used to georeferenced the image. So we can find the coordinate like as usual map and never get lost when trying to coming back to that island. Pendapat-11: there are three point called coconut trees. one polygon is called island and one line is called coastline.
Semua pendapat berbeda, ada yang tentang keindahannya, ada yang tentang kegunaannya. Tetapi ada juga kemiripannya, yaitu sebagian besar tetap memegang teguh fitur geografis yaitu Poligon, Garis, dan Titik.
Luar biasa…!
Bagaimana dengan anda..?
: )
*/ Thx guys, your spatial perspectives are very interesting… : )
Posted in AnotherWorld, Mi arsenal, Notas rápidas Tagged: Fundamental GIS, GIS, mind, Spasial, Spatial
Bertamu ke Rumah Pangeran

Clarence House (Wikipedia)
Rumah Pangeran itu mempunyai nama, dan namanya adalah Clarence House.
Ini adalah cerita saat mana memenuhi undangan dari The Prince’s Rainforest Project, pada bulan Oktober tahun 2008 lalu.
Pagi itu, Senin 20 Oktober 2008, setelah mandi pagi dan masih kacau dengan waktu akibat perbedaan sekitar 7 jam dengan waktu di kampung halaman, bersiaplah segera untuk keluar kamar dan menuju lobi Hotel Rubens, hotel berbintang empat yang cukup strategis di tengah kota London dan terletak berseberangan dengan kandang kuda istana Buckingham.
Pakai jas biru dongker oleh-oleh dari tim TISDA saat ke Amerika pertengahan 90-an, bersepatu sotik hitam Sin Lie Seng yang merupakan sepatu yang dipakai saat pernikahan (sayang sekali toko Sin Lie Seng di Pasar Baru Jakarta terbakar belum lama ini), dan berdasi rapi, duh jarang banget pake “seragam” kaya gini…
Di lobi telah menunggu banyak rekan yang mempunyai satu tujuan, yaitu menghadiri pertemuan yang bertajuk Remote sensing options for deforestation and degradation monitoring. Masing-masing peserta, yang sebagian sudah saling mengenal, siap dengan hal-hal yang telah diberitahukan “harus dibawa” yaitu undangan dan tanda pengenal diri (Passport). Sekitar jam 8:30 segera kami berangkat menuju lokasi pertemuan, dengan catatan: semua peserta yang berasal dari hotel ini belum pernah datang ke lokasi pertemuan, yaitu di St. James’s Palace, komplek perumahan keluarga istana Kerajaan Inggris.
Perjalanan melewati Buckingham Palace Road, lalu melintasi Victoria Memorial di depan Buckingham Palace, dan terus memutar ke arah Bridgewater House. Ada jalan yang lebih dekat ke Clarence House, tetapi tidak untuk umum, dan rombongan saya ternyata ternasuk kategori “umum” yang harus memutar dulu. Setelah melewati gang di sebelah Bridgewater House, kami berjejer kebelakang sambil lencang depan kemudian istirahat di tempat untuk diperiksa satu persatu oleh petugas keamanan istana. Pemeriksaan ini didampingi oleh panitia penyelenggara dan Nama pada daftar harus sama dengan nama pada Passport. Foto pun dilihat dengan teliti kemudian wajah dipindai oleh mata sang petugas yang badannya guede banget itu.
Lolos pemeriksaan, yang tanpa detektor logam, kami diarahkan menuju Clarence House. Satu persatu kami masuk disambut ramah oleh satu dua panitia, dan disatukan di ruang tamu yang sudah disiapkan penuh dengan buah-buahan daerah tropis kualitas top. Sebelum tuan rumah memulai acara, kami dipersilakan menghangatkan badan dulu dengan berbagai minuman yang memang panas semua, ada kopi panas dan teh panas. Menjadi satu-satunya orang dari Indonesia di tengah sekitar 50an ahli remote sensing dunia… jadi “terpaksa” kuminggris alias berbahasa Inggris-lah… lebih-lebih ternyata beberapa dari mereka adalah “teman lama”. Ada yang dari SPOT Image Perancis, ada yang dari GOFC-GOLD (Global Observation of Forest Cover and Land Cover Dynamics), Michigan State University Amerika, Leeds University Inggris, FAO, dan ada juga yang dari beberapa badan riset dunia yang sudah mengenal Indonesia dengan baik.
Pertemuan kemudian berlangsung menarik sekali, dan bla bla bla… capek. Dua hari yang melelahkan dimulai dari pukul 9 pagi hingga 5 sore dengan hanya jeda coffee break dan makan siang.
Selain pertemuan yang sangat produktif itu, ada banyak hal lain yang asik juga.

Ruang Utama saat memasuki Clarence House
Lokasi pertemuan, Clarence House, ternyata adalah rumah kediaman Prince Charles (Prince of Wales), putera mahkota Kerajaan Inggris. Rumah ini dulu adalah rumah ibu suri, dan setelah wafat ditempati Pangeran Charles dan kedua putranya, Prince William dan Prince Harry. Saat berada di London maka mereka selalu menempati rumah ini. Sayang sekali saat pertemuan ini mereka sedang tidak berada di London.
Clarence House rumah yang terlihat sangat sederhana. Saat masuk dari arah pintu utama langsung ke ruang besar seperti lorong dengan hiasan dominan adalah lukisan dinding yang besar-besar. Semua perabot yang terlihat adalah perabot klasik, dan tidak terlihat “kecanggihan” jaman modern masuk di ruang ini.
Dari ruang utama ini ada beberapa ruang atau kamar yang dikhususkan untuk keluarga (tamu gak boleh ngintip). Untuk menuju ke ruang makan, ada lorong yang relatif sempit dengan lebar kurang dari 2 meter, yang juga dipenuhi dengan berbagai aksesoris. Bentuk dominan hiasan adalah kuda. Jadi selain lukisan kuda yang hampir memenuhi dinding sepanjang lorong, juga terdapat beberapa hiasan di atas bufet dengan obyek utama kuda. Kuda rupanya adalah hewan kesukaan dan kesayangan ibu suri. Dan setelah mangkatnya ibu suri, semua pernik yang ada tetap dipertahankan di lorong tersebut.
Ruang makan agak berbeda, disana terdapat beberapa lukisan juga, yang merupakan hasil lukis Pangeran Charles sendiri. Dan obyeknya bukanlah kuda. Sebagian lukisan berlatar warna putih. Sangat berbeda dengan berbagai lukisan di ruang utama tadi. Dari ruang makan terdapat banyak jendela besar ke arah taman yang berbatasan dengan The Mall, yaitu jalan utama dari Buckingham Palace ke Trafalgar Square.
Menjadi salah satu tamu di rumah Pangeran Charles, walau sang tuan rumah sedang tidak di rumah, menjadi pengalaman tersendiri yang menarik. Karena rumah ini tidak untuk wisata sehingga semakin terbataslah yang pernah masuk ke gedung bercat putih ini. Tetapi walau merasa istimewa, ada juga rasa yang kurang nyaman, karena setelah masuk tidak diperbolehkan keluar sampai acara selesai, karena alasan keamanan. Artinya sejak jam 9 pagi hingga jam 5 sore harus terus berada di dalam ruang. Sekalipun beberapa peserta minta ijin keluar untuk merokok, tetap tidak diperbolehkan… hehehe…
Satu hal yang “disayangkan” ialah tidak diperbolehkannya kamera beraksi di dalam rumah ini. Jadi semua yang dilihat hanya bisa direkam dalam ingatan. Mau curi-curi kesempatan motret? Bisa aja, tapi dengan risiko sangat tinggi, karena kamera pengawas tentunya ada dimana-mana… Foto-foto yang ada dihalaman web ini adalah dari berbagai foto di wikipedia.
Hari pertama ternyata harus diakhiri dengan rasa sakit. Yaitu sakit di telapak kaki karena memang tidak terbiasa pakai sepatu sotik yang “maha” keras itu. Akibatnya adalah perjalanan 20 menit dari Clarence House menuju hotel dilakukan dengan sedikit terpincang… (agak ditahan, sedikit jaim). Hal ini memberi pelajaran dimana hari kedua seragam yang dipakai adalah: (tanpa mengurangi rasa hormat pada tuan rumah) masih setia pakai jas biru dongker, dasi tidak dipakai lagi karena suasana sudah lebih santai, dan sepatu sotik ditinggalkan… pakai sepatu kets…
Daripada daripada, kan lebih baik lebih baik…
; )
*/ peta lokasi di Google Maps sila klik disini.
*/ foto-foto saat di London dapat dilihat dengan klik disini.

Inisiatif RSGISForum untuk bencana Sumbar
Forum Remote Sensing dan GIS Indonesia, RSGISForum, memulai aksi inisiatif untuk menyediakan data dan informasi keruangan daerah Sumatera Barat, Jambi dan Bengkulu, yang baru saja dilanda gempa bumi.
Situs web inisiatif ini dapat diakses di:
Posted in Mi Comunidad Tagged: Bengkulu, gempa, GIS, Jambi, Padang, RS, rsgisforum, Spasial
Kompilasi Album Foto

flickr - picasa
Menyimpan gambar atau foto-foto di situs web yang menyediakan layanan gratis telah dilakukan sejak lama. Banyaknya fitur dan kemudahan pengoperasian serta kehandalannya menjadi pertimbangan utama dalam memilih.
Dari berbagai “percobaan”, akhirnya hanya dua provider saja yang menjadi andalan dalam menempatkan foto-foto di web. Kedua layanan ini adalah Flickr dari grupnya Yahoo! dan Picasaweb milik Google.
Flickr membatasi jumlah foto untuk layanan free yang hanya membolehkan maksimum 200 foto yang dapat ditayangkan, walaupun kita dapat mengunggah lebih dari 200 foto. Di flickr saya mempunyai dua akun, agar foto yang dapat dilihat lebih dari 200, ehm… akal-akalan gratisan…
Sedangkan Picasaweb membatasi dari sisi kapasitas total yaitu 1 Gigabita, terserah kita berapa jumlah foto yang akan kita unggah. Disini saya mempunyai (juga) beberapa akun.
Keduanya memberi kemudahan dan keunggulan masing-masing, yang sangat menarik bagi para penggunanya.
Meletakkan foto dikeduanya, terkadang merepotkan untuk mengunjunginya dengan mudah. Apalagi mengingat adanya beberapa akun pada keduanya. Untuk itu saya memanfaatkan fasilitas dari Google, yaitu sites.google.com, dimana kita bisa membuat halaman situs kemudian mengisinya dengan memanfaatkan bermacam gadget yang ada, termasuk gadget untuk menampilkan foto yang ditempatkan di Flickr dan Picasaweb dari berbagai akun yang ada. Maka beberapa album dari banyak tempat dapat disatukan…
Hasilnya dapat dilihat di: Album Foto httsan.
: )
Posted in Photomoregana Tagged: album, flickr, gadget, Google, picasa, Picasaweb, Sites, Yahoo
About
Planet Geo Indonesia is a GIS/geo- related blog aggregator, written by Indonesian bloggers and mostly in Indonesian Language... read on »
Contributors
Except otherwise noted BK and Geografiana.com has no affiliation whatsoever with the authors. All materials, links, copyrights, opinions expressed in each blog solely belongs to the original authors.
Link to this site
Feel free to use this image to promote this planet on your website/weblog, you can simply copy-and-paste the code below:

All opinions belong to their respective owners, others, copyright © 2006-2007 Buana Katulistiwa.




